Tak mudah melalui fase
kehidupan yang cukup rumit dengan usia yang rasanya belum mampu menghadapi
serangkaian peristiwa tidak biasa, tak mudah menjalani hidup sebagai anak-anak
normal jika semua yang kuanggap normal ternyata hal-hal tidak normal. Kuanggap
tembok adalah benda hidup, sama seperti kalian teman-teman yang bisa kuajak
berinteraksi untuk mendiskusikan apapun yang kuanggap penting. Kuanggap pohon
adalah mahluk bergerak yang setiap saat bisa saja kumintai bantuan, yang setiap
saat ikut bergerak saat kumelangkah, dan setiap saat melihat apa yang akan
kulakukan mencermati isi kepalaku.
Tubuhku begitu kecil saat
kutahu kelima sahabatku ternyata onggokan belulang manusia tanpa kepala yang
jelas jauh berbeda denganku yang masih bisa berdiri tegap, melangkah bebas,
menapaki tanah, dan nyata untuk diraba. Bukan takut yang menyergap, perasaan
iba muncul ke permukaan melebihi apapun yang pernah kurasakan terhadap
makhluk-makhluk sepertiku.
Aku masih belia ketika
akhirnya kelimanya pergi meninggalkanku sendiri ditengah bau Danur yang semakin
mengusik hari-hariku. Kalian tahu apa itu Danur? Danur adalah air yang muncul
dari jasad mahkluk hidup yang telah mati dan membusuk. Kututup penciumanku,
kututup mataku, kututup hatiku untuk Danur-Danur baru yang muncul sepeninggal
mereka.
Berjuang menyeimbangkan
langkah agar tetap merasa normal hingga akhirnya kutemukan cara agar semuanya
terasa baik-baik saja. Tak selamanya Danur itu menyengat dan membuatku lunglai,
kelima sahabatku pergi, namun segala sesuatunya selalu sama, kepergian mereka
mendatangkan sahabat-sahabat baru untukku. Pengalaman-pengalaman baru,
kisah-kisah baru. Drama, selalu dipenuhi drama.
Telah kubuka gerbang
dialog antara aku dan dunia mereka, telah kurangkai kisah-kisah baru.
Penciumanku tetap tertutup rapat, namun kini telinga, mata, hati, dan pikiranku terbuka lebar untuk
mereka.
Tak selamanya Danur itu
menjijikkan. Karena kini aku bisa mencium banyak wewangian yang muncul
karenanya.
Peter, William, Hans,
Hendrick, Janshen, Samantha, Jane, Ardiah, Edwin, Teddy, Sarah, Elizabeth,
Kasih adalah beberapa tokoh dari sekian banyak sahabat di proses hidupku hingga
kini.
“Mataku tetap terjaga, dan
mendapati suara itu muncul dari penggalan kepala mereka yang jatuh terpisah
dari baju lusuh yang mereka kenakan.”
Sejak kecil, Aku diberkahi
(atau dikutuk) dengan kemampuan untuk bisa melihat, mendengar, dan berinteraksi
dengan mereka yang tak terlihat. Kita menyebutnya hantu. Kedengaranya mungkin
keren bagi kalian, tapi tidak bagiku. Kemampuanku ini sering membuatku kecil
frustrasi. Bukan saja bisa melihat dan mendengar jerit kesakitan mereka, juga
bisa mencium bau anyir darah yang menguar dari wajah mereka yang rusak, atau
merasakan sentuhan mereka yang dingin dan berlendir.
“Kini jelas sudah kulihat di
depanku berdiri seorang perempuan tanpa busana, yang seluruh tubuhnya hitam
nyaris tak berbentuk. Tubuhnya seperti habis terbakar.”
Awalnya, ketika aku kecil
senang dengan kemampuan ini. Aku berteman dengan 5 hantu Belanda yang konon
adalah roh-roh gentayangan dari zaman penjajahan. Mereka adalah Peter, Hans,
Hendrick, William, dan Jansen. Satu-demi-satu, ketiga hantu bule yang untungnya
rupawan itu mengisahkan kisah-kisah sedih mereka kepadaku. Bagaimana mereka
dulu terbunuh, mengapa mereka masih melayang-layang di antara dua dunia, dan
apa keinginan atau ketidakpuasan mereka pada kehidupan yang membuat ruh-ruh itu
masih terjangkar di dunia. Kadang, sahabat-sahabat hantu itu mengusiliku, tapi
kadang juga mereka nakal sebagaimana anak-anak seusia mereka. Tampang kelima
hantu bule itu dilukiskan dengan sangat spooky-nya di sampul buku ini.
“hari-hariku dipenuhi
dengan canda Peter, pertengkaran Hans dan Hendrick, alunan lirih biola William,
dan tak lupa rengekan si bungsu Jansen.”
Tapi, itu hanyalah bagian
bagus dari kemampuanku. Selalu ada sisi bagus dan sisi jelek dari segala hal
yang ada di dunia ini. Ujian utama itu belum datang. Menjelang ulang tahun yang
ke-13, aku ditinggalkan oleh 5 teman hantu bulenya. Mereka marah karena aku
tidak menepati janjinya untuk bergabung dengan mereka, yakni dengan bunuh diri.
Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat lima teman hantunya, tapi, aku masih
tetap melihat mahkluk-makhluk lain yang seolah terus mengikuti. Tidak jarang
aku didatangi wajah yang melayang-layang di atas tempat tidur, atau melihat
rambut yang terurai seperti ular saat sedang di toilet, atau melihat penampakan
sepasang anak SMA dengan wajah berdarah-darah yang sepertinya terus muncul di pinggiran
jalan yang kulewati.
“Senyumnya yang tadi
terlihat sangat ramah, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat mengerikan.
Senyumnya terlalu lebar hingga mulutnya terlihat seperti hendak robek. Wajahnya
yang pucat tiba-tiba saja berwarna, merah karena ditetesi darah yang mengucur
perlahan dari arah kepalanya.”
Mungkin kedengarannya
aneh, tapi aku belajar banyak tentang kehidupan dari kisah-kisah orang mati
yang didengarnya. Paling pilu adalah kisah tentang Danur Kasih, ketika aku
dipertemukan dengan sosok hantu dari wanita yang meninggal dengan cara gantung
diri. Hantu itu merangkak kesakitan karena jerat tali gantungan yang terus
menerus menjerat lehernya. Dengan putus asa, dia memohon kepadaku untuk
melepaskan jerat itu, tetapi sia-sia. Sekuat apapun aku mencoba, jerat itu
selamanya ada di sana, menyiksa sang ruh yang telah gelap mata saat mengambil
keputusan untuk mengakhiri hidupnya dulu. Dari kisah-kisah itu aku belajar
bahwa betapa sangat beruntung diriku jika dibandingkan roh-roh penasaran
tersebut.
Baru sekarang aku tahu
kenapa mereka selalu membuat suara-suara tawa mengerikan. Mereka sedang
menangisi diri mereka sendiri, dan segala penyesalan atas apa yang pernah
mereka lakukan. Mereka juga sedang menertawakan diri mereka, yang begitu bodoh
membuat sebuah keputusan.”
Dari
catatan tersebut, tersirat kalau semua kisah hantu yang ada dalam buku ini
benar-benar ada dan nyata. Latar belakang historis yang menggambarkan penyebab
kematian hantu-hantu itupun juga masuk akal, sementara topik tentang hantu dan
roh penasaran ini sampai sekarang masih menjadi bahan perdebatan. Apakah hantu
itu benar-benar ada? Apakah mereka itu sebenarnya, roh orang yang sudah
meninggal ataukah jin-jin yang menyaru dalam wujud manusia yang sudah
meninggal? Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui. Dari kisah Aku dalam buku ini,
paling tidak kita bisa mengambil banyak pelajaran (walaupun dengan cara yang
agak-agak serem) tentang kehidupan. Bahwa kehidupan itu adalah anugrah yang
sangat berharga dan sudah sepantasnya dipertahankan, dilestarikan, dan diisi
dengan melakukan banyak kebaikan.
“Jika aku jatuh terperosok
hingga tak mampu lagi bangkit, itu semua salahku, bukan salah Tuhan.”
"Itulah yang paling
penting dalam sebuah hubungan, menjadi diri sendiri dan mengubahnya
bersama-sama jika itu adalah sesuatu yang buruk.”
“Jika aku masih berpikir
bahwa hidupku ini membosankan dan tak bahagia, anggaplah bahwa aku ini adalah
seorang anak yang sangat bodoh. Bahkan, mungkin jauh lebih bodoh dari seekor
keledai. Manusia tak pernah merasa puas atas apa yang telah dicapainya, dan aku
ini ternyata memang manusia juga, ya?”
Komentar
Posting Komentar