Langsung ke konten utama

INTERELASI NILAI JAWA DAN ISLAM PADA BIDANG ARSITEKTUR

        Islam Jawa sering dipandang sebagai islam sinkretik atau islam nominal, yang konsekuensinya islam jawa bukanlah islam dalam arti sebenarnya. Atau “kurang islam”, bahkan “tidak islam” pendapat ini dibuktikan dari pendapat beberapa para ilmuan.
Oleh karena itu, penting pula memahami interpelasi islam jawa pada bidang arsitektur. Mengingat arsitektur (secara fisik) menunjukkan keberadaan perkembangan budaya suatu daerah. Misalnya dari bangunan tempat ibadah, makam, tata ruang kota, dll. Dengan itu semua, maka perlu kita pelajari apa tentang Sejarah Arsitektur dalam islam? Apa saja macam-macam Arsitektur Jawa Islam dan Bagaimana pola internalisasi Arsitektur Jawa Islam?


Sejarah Arsitektur Dalam Islam
Dalam sejarah peradaban agama islam, masjid dianggap sebagai cikal bakal arsitektur dalam islam, yakni dengan dibangunnya masjid Quba oleh Rasulullah SAW sebagai masjid yang pertama.[1]
Awal mula bangunan masjid Quba sangatlah sederhana sekali, dengan lapangan terbuka sebagai intinya, dan penempatan mimbar di sisi dinding arah kiblat, serta di tengah-tengah lapangan terdapat sumber air untuk bertujuan bersuci, masjid Quba ini merupakan karya spontan dari masyarakat muslim di madinah pada waktu itu. Bangunan masjid Quba disebut para ahli sebagai masjid arab asli. Namun, kiranya arti lebih luas adalah bahwa masjid Quba telah menampilkan dasar pola arsitektur masjid yang lebih mengedepankan makna dan fungsi minimal yang harus terpenuhi dalam bangunan sebuah masjid.[2]
Oleh karena itu, ketika islam masuk ke jawa, arsitektur jawa tidak dapat ditolak oleh islam. Jadi, agar islam dapat diterima sebagai agama orang jawa, maka simbol-simbol islam hadir dalam bingkai budaya dan konsep jawa, sebagai hasil berasimilasinya dua kebudayaan dan sekaligus sebagai pengakuan akan keberadaan keunggulan Muslim Jawa dalam karya arsitektur.[3]
Macam-macam Arsitektur Jawa Islam
     1.    Masjid
Masjid sebagai tempat yang secara khusus untuk beribadah kepada Allah SWT, mempunyai nilai yang sangat tinggi bagi umat islam. Di berbagai tempat dimana islam tumbuh, masjid telah menjadi bangunan penting dalam syiar islam. Masjid dijadikan sebagai sarana penanaman budaya islam sehingga dalam pengertian ini terjadilah pertemuan dua unsur dasar kebudayaan, yakni kebudayaan yang dibawa oleh para penyebar islam yang terpaterai oleh ajaran islam dan kebudayan lama yang telah dimiliki oleh masyarakat setempat.
Masjid sebagai arsitektur islam merupakan manifestasi keyakinan agama seseorang. Oleh karena itu, tampilan arsitektur islam tidak lagi hanya pada masjid, tetapi telah tampil dalam bentuk karya fisik yang lebih luas.[4]
     2.    Makam
Di Jawa makam merupakan salah satu tempat yang dianggap sakral, bahkan sebagian cenderung dikeramatkan. Dilihat dari corak arsitekturnya terdapat beberapa bentuk. Ada yang sederhana dengan hanya ditandai batu nisan seperti makam Fatimah binti Maimun atau makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik
Adapun untuk penempatannya ada yang menyatu dengan komplek masjid seperti Sunan Kudus, makam Raden Patah. Bangunan makam Sunan Kudus yang arealnya dikelilingi bangunan yang berlapis-lapis mengingatkan kita pada bentuk bangunan kedhaton pada keraton zaman kerajaan hindu dengan lawang korinya.
Secara tidak langsung, arsitektur dan tata kota islam bertautan dan dipengaruhi oleh hukum ilahi (syariah), yang mencetak kehidupan individu muslim dan kehidupan komunitas islam sebagai satu keseluruhan. Hukum ilahi itu sendiri berasal dari wahyu islam dan sekalipun tidak mencipta arsitektur atau tata kota, ia benar-benar melengkapi arsitektur itu dengan latar belakang sosial dan manusiawi yang secara sakral mempunyai asal usul yang supra manusiawi. Karenanya, arsitektur dan tata kota islam, dalam bentuk tradisional dicipta, dibentuk, dan dipengaruhi oleh agama islam dalam prinsip-prinsip batini, bahasa simbolik dan landasan-landasan intelektual mereka, dan juga oleh penataan manusiawi dan sosial untuk mana mereka dipergunakan sebagai kerangka eksternal.[5]
      Pola Internalisasi Arsitektur Islam Jawa
Internalisasi islam dalam arsitektur di jawa sebenarnya sudah dapat dilihat sejak awal islam masuk ke jawa. Mengingat bahwa salah satu saluran penyebaran islam di jawa dilakukan melalui karya seni arsitektur, diantaranya adalah bangunan masjid.
Sementara itu, sebelum islam masuk di jawa, masyarakat jawa telah memiliki kemampuan dalam melahirkan karya seni arsitektur, baik yang dijiwai nilai asli jawa maupun yang telah dipengaruhi oleh hindu budha dimana di jawa telah berdiri berbagai jenis bangunan seperti bangunan candi, keraton, benteng, kuburan, meru, rumah joglo.
Masjid di jawa biasa dilengkapi dengan beduk dan kentongan sebagai bertanda masuknya waktu sholat, pada masanya dianggap sangat efektif sebagai sarana komunikasi.
Ciri-ciri bangunan masjid seperti itu dapat kita temui hampir dalam semua bangunan masjid kuna di jawa seperti masjid dekat raja kuta Gede dan Imogiri, masjid di giri masjid demak, dan kebudayaan masjid-masjid di jawa.[6]

KESIMPULAN
a)    Dalam sejarah peradaban agama islam, masjid dianggap sebagai cikal bakal arsitektur dalam islam, yakni dengan dibangunnya masjid Quba oleh Rasulullah SAW sebagai masjid yang pertama.
b)   Banyak arsitektur jawa yang bercorak islam, dimana terjadi asimilasi diantara dua kebudayaan tersebut, diantaranya:
1.    Masjid
2.    Makam
3.    Tata Kota
c)    Internalisasi islam dalam arsitektur di jawa sebenarnya sudah dapat dilihat sejak awal islam masuk ke jawa. Mengingat bahwa salah satu saluran penyebaran islam di jawa dilakukan melalui karya seni arsitektur, diantaranya adalah bangunan masjid.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Darrori, 2002. Islam dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta : Gama Media.




                [1]. Abdul Rochym, Sejarah Arsitektur Islam, Angkasa, Bandung : 1983, h. 26.
[2]. Ibid. h.32
                [3]. Darrori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta : Gama Media. 2002, h.188.
                [4]. Ibid. h.187.
                [5]. Seyyed Hossein Nasr, Islam Tradisi di Tengah Kancah Dunia Modern, Bandung : 1994. h.243
                [6]. Darrori Amin, Islam dan Kebudayaan Jawa, Yogyakarta : Gama Media. 2002. h.199

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fungsi Hadits Terhadap Al Quran

A.     Fungsi Hadist Beserta Contohnya Hadis adalah sumber hukum islam kedua yang telah di sepakati oleh para ulama ( ahlul ilmi ) dapat memunculkan hukum dengan sendirinya tampa besertaan dengan al-Qur’an. [1] Disamping itu hadist juga memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Al-Qur’an apalagi bila kita tinjau dari sisi fungsinya. Fungsi hadist terhadap Al-Qur’an secara umum yaitu sebagai bayan ta’kid, bayan tafsir, bayan takhshis, bayan taqyid, bayan tasyri’, dan bayan tabdil.  Kejelasan fungsi-fungsi hadist tersebut diatas  adalah sebagai berikut. 1.       Bayan Ta’kid Bayan ta’kid atau disebut juga dengan bayan Taqrir  atau bayan itsbat adalah hadist yang berfungsi untuk memperkokoh atau memperkuat isi kandungan Al-Qur’an. [2] Dalam hal ini, hadist hanya berfungsi untuk memperkokoh isi kandungan Al-Qur’an, [3] dengan demikia maka kandungan hukumnya memiliki dua dalil sekaligus yaitu Al-Qur’an dan Hadist Nabi. [4]...

AL-ASMA’ WA AL-KUNYA DAN AL-ALQAB AL-MUHADDITSIN

A.   Al-asma’ wa Al-kunya a.     Pengertian Menjelaskan nama-nama perawi dengan nama atau julukan atau gelar yang berbeda. Misalnya : Muhammad ibn al-saib al-kalbi ( محمد بن السائب الكبى ) sebagian orang mengetahui mamanya dengan “Aba al-nadhr” ( أبا النضر ) dan sebagian yang lain “Hamaad ibn al-saib”( حماد ابن السائب ) dan “Aba Al-said " : ( أبا سعيد ). [1] b.     Faedah/manfaat Untuk mempermudah pengenalan terhadap nama para rawi yang masyhur dengan kunyah-nya agar lebih lanjut dapat diketahui karakteristiknya dan untuk menghindari salah duga  karena menganggap seorang rawi adalah dua orang karena suatu saat ia disebut dengan namanya dan pada saat lain dengan kunyah-nya, atau kadang-kadang ia disebut dengan nama dan kunyah-nya sekaligus, sehingga diangap dua orang. Kemungkinan ini terjadi lantaran tiada kata ‘an tertulis diantara nama dan kunyah-nya itu. Bidang kajian ini senantiasa digali dan diperhatikan dnegan seksama oleh ahli ilm...

Ekonomi Konvensional VS Ekonomi Islam (Syariah)

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Sistem ekonomi yang dikenal oleh masyarakat secara global adalah sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Dalam konteks ekonomi, kedua sistem ini telah mampu meningkatkan kemakmuran rakyat dinegara yang menggunakan kedua sistem ekonomi tersebut. Sistem kapitalis dipengaruhi oleh semangat mendapatkan keuntungan semaksimal mungkin dengan sumber daya yang terbatas. Usaha kapitalis ini didukung oleh nilai-nilai kebebasan untuk memenuhi kebutuhan. Kebebasan ini mengakibatkan tingginya persaingan diantara sesamanya untuk bertahan. Sistem ekonomi kapitalis memiliki beberapa kecenderungan antara lain: kebebasan memiliki harta secara perorangan, kebebasan ekonomi dan persaingan bebas, serta ketimpangan ekonomi. Sedangkan sistem ekonomi sosialis mempunyai tujuan kemakmuran bersama. Filosofis ekonomi sosialis, adalah bagaimana bersama-sama mendapatkan kesejahteraan. Ciri-ciri ekonomi sosalis diantaranya: pemilikan harta oleh negara, k...